BP-DIKSUS
Balai Pengembangan Pendidikan Khusus
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah
Jl. Elang Raya No. 2, Telp. 024-70781106, Fax. 024-76744365, Semarang 50272.

VISI

"Mewujudkan pelayanan pendidikan khusus yang berkualitas untuk membentuk pribadi yang terampil, mandiri, berakhlak mulia, dan berwawasan kebangsaan"




Pendidikan Khusus Bagi Peserta Didik Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa


Penulis :

Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa (PDCI/BI) adalah wujud layanan pendidikan, dapat berupa program pengayaan (enrichment) dan gabungan program percepatan dengan pengayaan (acceleration-enrichment).

Program pengayaan adalah pemberian pelayanan pendidikan kepada peserta didik  yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang dimiliki dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat perluasan/pendalaman, setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan untuk peserta didik lainnya.

Gabungan Program Percepatan dan Pengayaan adalah adalah pemberian pelayanan pendidikan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk dapat menyelesaikan program regular dalam jangka waktu yang lebih singkat dibanding teman-temannya yang tidak mengambil program tersebut.Artinya peserta didik kelompok ini dapat menyelesaikan pendidikan di SD/MI dalam jangka waktu 5 tahun, di SMP/MTs atau SMA/MA dalam waktu 2 tahun.

Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa (PDCI/BI) bertujuan :

1. Memberikan kesempatan kepada PDCI/BI untuk mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi kecerdasan yang dimilikinya.

  1. Memenuhi hak asasi PDCI sesuai kebutuhan pendidikan bagi dirinya.
  2. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran bagi PDCI

4. Membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik.

5. Membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlan dan berketrampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

 

A.   Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan Khusus Bagi PDCI/BI

Penyelengaraan program pendidikan khusus bagi Peserta Didik Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa (PDCI/BI) dapat dilakukan dalam bentuk kelas khusus, kelas inklusi dan satuan pendidikan khusus.

  1. Kelas khusus adalah kelas yang dibuat untuk kelompok peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam satuan pendidikan reguler pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran yang diberikan pada saat peserta didik CI/BI dikelas khusus adalah mata-mata pelajaran yang termasuk dalam rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA)

2. Kelas inklusif adalah kelas yang memberikan layanan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa dalam proses pembelajaran bergabung dengan peserta didik program regular. Mata pelajaran yang diberikan  pada saat peserta didik CI/BI dikelas khusus adalah mata-mata pelajaran lain diluar rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA)

  1. Satuan pendidikan khusus adalah lembaga pendidikan formal pada jenjang pendidikan dasar  (SD/MI, SMP/MTs) menengah (SMK/MA, SMK/MAK) yang semua peserta didiknya memiliki potensi kecerdasan istimewa dan/atau bakat istimewa.

 

  1. B.   Bentuk Program Pendidikan Khusus bagi PDCI/BI
    1. Program Pengayaan (enrichment), adalah pemberian pelayanan pendidikan kepada PDCI/BI yang dimiliki, dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas tambahan yang bersifat perluasan/pendalaman setelah yang bersangkutan menyelesaiakan tugas-tugas yang diprogramkan untuk peserta didik lainnya. Program ini cocok untuk peserta didik yang bertipe “enriched leaner” .

Bentuk layanan ini antara lain dilakukan dengan memperkaya materi melalui kegiatan-kegiatan penelitian dsb, dan atau mendapat pengayaan dengan pendalaman terutama bila ia akan mengikuti lomba kejuaraan mata pelajaran tertentu (contoh: mengikuti olimpiade matematika, biologi, fisika, astronomi dst). Fokus layanan untuk kelompok ini adalah pada perluasan/pendalaman materi yang dipelajari dan bukan pada kecepatan waktu belajar di kelas. Artinya, kelompok ini tetap menyelesaikan pendidikan di SD/MI dalam jangka waktu 6 tahun atau di SMP/MTs dan SMA/MA dalam waktu 3 tahun.

2. Gabungan program percepatan dan pengayaan (acceleration-enrichment), adalah pemberian layanan pendidikan PDCI/BI untuk dapat menyelesaikan program regular dalam jangka waktu yang lebih singkat disbanding temen-temannya yang tidak mengambil program tersebut. Artinya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan program belajar bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa lebih cepat dibandingkan dengan siswa reguler. Pada satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD), dari 6 (enam) tahun dapat dipercepat menjadi 5 (lima) tahun. Sedangkan pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masing-masing dari 3 (tiga) tahun dapat dipercepat menjadi 2 (dua) tahun.

Dalam program ini peserta didik tidak semata-mata memperoleh percepatan waktu penyelesaian studi di sekolah, tetapi sekaligus memperoleh eskalasi atau pengayaan materi dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat perluasan/pendalaman. Pengayaan dapat dilakukan secara horizontal (menunjuk pada pengalaman belajar di tingkat pendidikan yang sama, tetapi lebih luas) maupun vertikal (meningkatkan kompleksitasnya). Bentuk layanan ini antara lain melalui kegiatan-kegiatan penelitian ketika peserta didik mengikuti lomba kejuaraan untuk mata pelajaran tertentu (contoh: mengikuti olimpiade matematika, biologi, fisika, astronomi dst). 

 

  1. C.   Kelembagaan 

Penyelenggaraan pendidikan khusus bagi PDCI/BI dalam bentuk kelas khusus dan kelas inklusi dilakukan pada satuan pendidikan yang sudah beroperasi atau berjalan. Satuan pendidikan dapat membuka dan menyelenggarakan pendidikan khusus bagi PDCI/BI harus memenuhi Kriteria minimal, sebagai berikut:

1. SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA negeri atau swasta yang bernaung dibawah badan hokum dan memiliki ijin oprasional di bidang pendidikan.

  1. Sekolah kategori mandiri untuk SMA/MA, sekolah standar nasional untuk SD/MI dan SMP/MTs
  2. Telah Melaksanakan kurikulum sesuai Permendiknas no. 22,23,24 tahun 2006
  3. Terakreditasi dengan Kategori “A”

 

  1. D.   Kurikulum

Kurikulum pendidikan khusus bagi PDCI/BI dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah serta melibatkan tenaga ahli dari lingkungan perguruan tinggi, berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan  berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

 

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kebutuhan kepentingan peserta didik dan lingkunganya

  1. Beragam dan terpadu
  2. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ,tegnologi dan seni
  3. Relevan dengan kebutuhan pendidikan
  4. Menyeluruh dan berkesinambungan
  5. Belajar sepanjang hayat
  6. Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah

 

Kurikulum pendidikan bagi PDCI/BI adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP), yang berdeferensiasi dan dimodifikasi serta dikembangkan melalui sitem pembelajaran yang dapat memacu dan mewadai integrasi antara  pengembangan spiritual, logika, nilai-nilai, etika dan estetika serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir holistic, kreatif, sistemik dan sistematis, linear dan konvergen untuk memenuhi tuntutan masa kini dan masa mendatang.

Kurikulum pendidikan khusus PDCI/BI dikembangkan secara berdeferensiasi, mencakup 4 dimensi yang terintegrasi sebagai berikut:

  1. Dimensi umum, bagian kurikulum inti yang memberikan pengetahuan,keterampilan dasar, pemahaman nilai, dan sikap yang memungkinkan peserta didik yang berfugsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau tuntutan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Dimensi Diferensiasi, bagian kurikulum yang berkaitan erat dengan cirri khas perkembangan peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa, merupakan program khusus dan pilihan terhadap mata pelajaran tertentu serta memberikan kesempatan bakat tertentu lainya
  3. Dimensi media pembelajaran, merupakan implementasi kurikulum berdiferensiasi, menuntut adanya penggunaan media pembelajaran seperti belajar melalui radio, televisi, internet, CD-ROM, pusat belajar, riset guru, wawancara dengan pakar, dsb
  4. Dimensi suasana belajar, merupakan pengalaman belajar yang dijabarkan dari lingkungan keluarga dan sekolah harus mampu menciptakan iklim akademis yang menyenangkan dan menantang, system pemberian apresiasi hubungan antar peserta didik, antara guru dan peserta didik, antara guru dan orang tua peserta didik, dan antara orang tua peserta didik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka serta hangat dengan prinsip TUT WURI HANDAYANI

5. Dimensi co-kurikuler, Sekolah memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman diluar sekolah, seperti : Kunjungan ke museum sejarah dan budaya, panti asuhan, pusat kajian ilmu pengetahuan, cagar alam, dll.

 

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan.

 

  1. E.     Pembelajaran

Pendidikan khusus bagi PDCI/BI di satuan pendidikan SD/MI melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket, sedangkan pada satuan pendidikan SMP/MTs, SMA/MA menggunakan Sistem Paket atau Satuan Kredit Semester (SKS).

Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas yang sesuai  dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran sistem paket dinyatakan pada satuan  jam pembelajaran.

Sistem Kredit Semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester  dinyatakan dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Beban Belajar satu SKS meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur.

Kegiatan Pembelajaran untuk pendidikan khusus bagi PDCI/BI, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) harus menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris dan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pembelajaran MIPA dilakukan dalam kelas khusus, sedangkan mata pelajaran lainya dilakukan dikelas regular.

 

  1. F.      PERSYARATAN PESERTA DIDIK

Jumlah peserta didik pendidikan khusus bagi PDCI/BI untuk setiap kelas sebanyak-banyaknya 20 orang. Peserta didik SD/MI dapat berusia di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa dan/atau dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog professional. Peserta didik pada SMP/MTs adalah lulusan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat. Peserta didik pada SMA/MA adalah lulusan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat.Proses penerimaan peserta didik harus bersifat objektif, transparan, akuntabel dan dilakukan seleksi secara ketat, dengan menerapkan tahapan sebagai berikut :

 

  1. Seleksi Administrasi, meliputi :
    1. Hasil Ujian Nasional dari sekolah sebelumnya dengan nilai rata-rata 8,0
    2. Tes kemampuan akedemis, dengan nilai rata-rata minimal 8,0
    3. Psikologis

Setelah peserta didik diidentifikasi sebagai nominasi melalui proses seleksi administrasi, selanjutnya dilakukan tes penilaian dari guru, orang tua, atau konselor yang lebih memahami dengan pasti tingkat keberbakatanya. Pada tahap ini, calon yang lolos pada tahap penjaringan diberikan tes yang dilakukan secara kelompok mauoun secara individual, yaitu tes inteligensi, tes kreatifitas dan skala task commitment. Untuk pendidikan khusus bagi PDCI/BI pada tahap ini diberikan juga tes proyektif sebagai tes penunjang untuk mengetahui aspek emosi dan social calon siswa anak berbakat. Dengan demikian ada tiga jenis tes yang dilakukan dalam aspek psikologis calon peserta didik yaitu :

  1. Kemampuan Intelektual  (IQ)
  2. Kreativitas
  3. Keterikatan dengan tugas  (Task Commitment)

 G. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Pendidik adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, serta melakukan pembimbingan dan pelatihan. Tenaga kependidikan adalah personil yang melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan pengembangan pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan di program akselerasi. Tenaga kependidikan di pendidikan khusus bagi PDCI/BI dapat mencakup manajer/kepala program, laboran, tenaga ahli, Pengembang Kurikulum/pembelajran, staf dan sebagainya.

Kepribadian yang ada pada seorang guru yang mengajar di pendidikan khusus bagi PDCI/BI harus mampu menyesuaikan diri dengan karakteristik yang ada pada diri peserta didik cerdas istimewa. Feldhusen (1997), mengidentifikasi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain :

  1. Percaya Diri
  2. Sabar
  3. Objektif dan adil
  4. Terbuka terhadap perubahan
  5. Fleksible dalam berfikir
  6. Kreatif
  7. Memiliki rasa humor
  8. Cerdas dan berpengetahuan luas
  9. Pekerja keras dan berorientasi pada prestasi (Achievement motivation)

10. Memiliki sikap positif terhadap peserta didik cerdas istimewa

11. Mampu mengapresiasikan peserta didik

12. Memahami dan menerima perbedaan individual sikap yang positif

13. Mampu berempati

14. Mampu melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain termasuk peserta didik

15. Terbuka terhadap pandangan peserta didik

16. Memiliki minat yang besar untuk mengembangkan kemampuan belajar peserta didik

17. Antusias dan dapat memotivasi peserta didik

18. Mampu bekerja sama dengan semua pihak

 

Secara umum kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru terdiri dari : kompetensi pedagogik, professional, personal, dan sosial  (Kemendiknas No 19/2005) secara lebih spesifik beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang mengajar di program akselerasi antara lain :

  1. Lulusan perguruan tinggi minimal S-1 yang sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkan dan memiliki akta mengajar
  2. Mampu berbahasa Inggris aktif dan menggunakan dalam kegiatan pembelajaran
  3. Dapat menggunakan perangkat komputer dan teknologi informasi lainnya dalam proses pembelajaran
  4. Memiliki Kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional

5. Memiliki karakteristik umum yang dipersyaratkan dengan mengacu pada aspek kepribadian dan kompetensi guru

  1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan peserta didik kecerdasan istimewa (baik cerdas istimewa secara umum, maupun peserta didik yang cerdas istimewa pada bidang khusus)
  2. Menguasai substansi mata pelajaran yang diampu
  3. Mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik

9. Mampu mengembangkan materi, metode, produk dan lingkungan belajar untuk peserta didik cerdas istimewa

10. Memahami psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan

11. Mampu mengembangkan kreativitas peserta didik

12. Memiliki pengalaman mengajar di kelas regular sekurang-kurangnya 3 tahun dengan prestasi baik

13. Mampu berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan pendidikan

 

  1. H.   Sarana dan prasarana pendidikan

Sekolah penyelenggara pendidikan khusus bagi PDCI/BI, harus mampu memenuhi sarana penunjang kegiatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik yang mencakup prasarana dan sarana belajar sebagai berikut :

  1. Prasarana Belajar
    1. R. Kepala Sekolah, R. Guru, R. BK, R. TU, dan OSIS
    2. Ruang kelas dengan formasi tempat duduk yang mudah dipindah
    3. Ruang Lab Matematika, fisika, Biologi, (untuk SD/MI Lab IPA), Lab Bahasa, Lab Komputer, ruang Audiovisual dan ruang perpustakaan
    4. Kantin, Koperasi, Mushola, dan Poliklinik
    5. Aula Pertemuan
    6. Lapangan Olahraga
    7. Kamar Mandi/WC
    8. Ruang Pengembangan Bakat dan Ketrampilan

 

  1. Sarana Belajar
    1. Sumber Belajar seperti Buku paket, buku pelengkap, buku referensi, majalah, Koran, kaset, VCD, DVD dan sebagainya
    2. Media pembelajaran
    3. Alat Praktek dan Peraga
    4. Sarana TIK berupa jaringan internet dan intranet

 

  1. I.      Pembiayaan

Sumber pembiayaan pendidikan khusus bagi PDCI/BI berasal dari orang tua siswa pemerintah kabupaten /kota pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Penyeenggara Pendidikan Khusus bagi PDCI/BI harus mampu menggalang dana dari sumber tersebut dalam jumlah yang cukup memadai untuk membiayai kegiatan operasional dan peningkatan mutu program akselerasi

Sumber pembiayaan pendidikan khusus bagi PDCI/BI ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan dan berkelanjutan. Dengan demikian calon peserta didik yang dapat diterima di pendidikan khusus bagi PDCI/BI tidak boleh semata-mata dilihat dari criteria kemampuan ekonomi, tetapi lebih didasarkan pada prasyarat kecerdasan istimewa. Kepada peserta didik yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, penyelenggara program harus mengupayakan ada subsidi maupun donasi dari sumber-sumber lain.